Sabtu, 03 November 2012

100 hari menulis novel

Inclair Lewis diundang untuk berbicara di hadapan sejumlah mahasiswa tentang seni menulis. Ia berdiri di muka kelas dan bertanya, “Berapa banyak dari Anda yang sungguh-sungguh serius ingin menjadi penulis?” Sejumlah orang mengangkat tangan. Lewis kemudian bertanya, “Jadi, mengapa Anda semua tidak pulang ke rumah dan menulis?” Setelah mengucapkan hal itu ia pun pergi keluar dari ruangan. Jadi kini saatnya bagi Anda untuk menulis.


Pada artikel berikutnya saya akan memberikan catatan harian untuk Anda—setiap hari akan berisi kata-kata dorongan, nasihat, atau petuah, atau tugas yang harus Anda lakukan agar buku Anda bisa ditulis. Ini adalah hal-hal apa saja yang perlu Anda lakukan setiap hari selama seratus hari ke depan untuk menulis novel Anda.

Hari Pertama

Editor dan penulis New Yorker terkenal, E.B. White menyampaikan pidato berikut saat diganjar Medali Sastra Nasional, “Keberanian seorang penulis bisa dengan mudah membuatnya gagal … Saya kagum dengan siapapun yang memiliki nyali untuk menulis tentang apapun jua.”

Pada hari pertama ini, buatlah janji dengan diri Anda sendiri bahwa Anda akan melakukannya. Hal ini sangat penting. Tanpa adanya komitmen ini, akan lebih baik jika Anda menyimpan pena dan kertas Anda. Hal itu tidak akan berhasil. Ingat, menulislah sesering mungkin. Itulah yang dilakukan oleh seorang penulis—mereka menulis

Hari kedua

Luangkan waktu khusus untuk menulis. Hal ini penting karena selama menulis novel, Anda akan kehilangan semangat, bosan, marah, atau jenuh, dan saat Anda mulai merasakan semuanya itu, Anda memerlukan sebuah pola yang jelas untuk menjaga Anda tetap bekerja.

Sesekali Anda mungkin harus memindahkan jam penulisan Anda untuk mengakomodasi kebutuhan lain dalam hidup Anda, namun berusahalah agar penulisan dilakukan seteratur mungkin.

Apa yang saya maksud dengan waktu khusus?

Dua jam setiap pagi dan setiap malam, dan delapan jam satu hari setiap akhir pekan, misalnya. Putuskan berapa banyak waktu yang akan Anda luangkan untuk menulis setiap minggu, lalu jalankan hal itu. Banyak calon novelis yang gagal karena menyusun jadwal yang tidak bisa mereka tepati. Bersikap realistislah dengan waktu yang Anda rencanakan, lalu jalankan sesuai dengannya.

Hari ketiga

Pada minggu pertama ini, putuskan cerita yang akan Anda tulis. Anda mungkin belum menyusun semua detilnya, namun pada hari ini Anda akan memulai prosesnya. Anda tidak akan melakukan penundaan—karena penundaan adalah musuh Anda. Matisse menasihati muridnya, “Jika Anda ingin menjadi seorang pelukis, potong lidah Anda.” Sekarang adalah waktunya untuk berhenti berbicara ingin menulis novel. Mulailah merencanakannya saat ini juga.

Hari Keempat

Jenis novel apa yang menarik di mata Anda? Apa yang benar-benar membuat Anda tertarik? Apakah cerita mengenai misteri pembunuhan, fiksi ilmiah, horor, roman, atau fiksi secara umum.

Alice Munro dipandang oleh banyak orang sebagai penulis cerita pendek terbaik dalam bahasa Inggris. Bukunya terjual 30.000 eksemplar setiap tahun. Ia adalah seorang penulis yang dikagumi oleh penulis lainnya berkat keterampilan teknis dan kemurnian gaya yang dimilikinya. Ia juga dikenal karena ceritanya yang memiliki struktur yang sangat kompleks. Cerita yang ditulis Alice Munro biasanya akan dimulai pada satu titik yang dipandang oleh kebanyakan penulis lain sebagai bagian akhir, lalu melompat sepuluh tahun kemudian, dan akhirnya kembali lagi ke masa lalu. Namun yang paling menarik dari diri Alice Munro—yang tinggal di sebuah kota kecil di Kanada selatan—adalah ceritanya selalu berkisah tentang orang-orang biasa: rahasia mereka, kenangan mereka terhadap tindak kekerasan di masa lalu, hasrat seksual mereka.

Pikirkan tentang apa yang akan ditulis dari orang-orang di sekitar Anda, dari apa yang Anda kenal dan Anda anggap penting.

Hari Kelima

Tidak menjadi soal buku jenis apa yang akan Anda tulis. Tidak ada aturan baku kecuali cerita Anda harus sangat, sangat menarik. Kisahnya bisa menarik, menyeramkan, menyenangkan, lucu, atau sedih—namun satu hal yang pasti, ceritanya tidak boleh membuat pembaca merasa bosan.

Hari Keenam
Analisa dan pelajari. Ambil satu novel favorit Anda yang bergenre sama dengan yang ingin Anda tulis, dan baca ulang, seolah-olah itu adalah buku panduan cara menjadi seorang miliuner. Lalu baca kembali, bagi buku tersebut ke dalam bagian-bagian. Jabarkan adegan di dalamnya pada selembar kertas lebar, lalu tempelkan di dinding kantor Anda.

Hari Ketujuh

Meskipun tidak ada aturan baku tentang ide cerita, saya ingin memberi satu peringatan kepada Anda: berpikirlah kecil. Salah satu kesalahan terbesar kebanyakan calon novelis adalah berpikir besar, berusaha menulis kisah yang luar biasa hebat, karena menganggap besar berarti lebih baik. Hal itu tidak benar. Jaga ide cerita Anda tetap kecil dan fokus.

Pergi ke dalam jiwa kreatif Anda dan cari satu cerita kecil namun memiliki arti nyata bagi Anda. Kita semua bagian dari umat manusia. Jika Anda menulis satu cerita yang memiliki arti besar bagi Anda, maka kemungkinan besar hal itu juga akan memiliki arti mendalam bagi kita semua.

Hari Kedelapan

Peniruan bisa mengarah pada orisinalitas. Lakukan latihan singkat meniru aneka gaya yang berbeda. Cobalah berbagai suara sampai Anda menemukan satu yang paling sesuai. Tirulah karya seorang pakar yang sudah terbukti. Namun ingat satu hal: tulislah berdasarkan pengalaman Anda sendiri. Pengalaman Anda bersifat unik. Sebagaimana yang ditulis John Braine, penulis Room at the Top, “Jika suara Anda akan terdengar di antara ribuan suara lainnya, jika nama Anda akan berarti di antara ribuan nama lainnya, hal itu terjadi semata-mata karena Anda telah menyajikan pengalaman Anda dengan jujur.”

Hari Kesembilan

Jangan takut menulis adegan atau bagian yang tidak mengarah kemanapun. Jangan buang satu adegan atau bagian sekalipun mereka sepertinya tidak mengarah kemana-mana. Ikuti nasihat Joan Didion. Ia menempel adegan tersebut di papan dengan maksud menggunakannya di kemudian hari.

Pada awal penulisan novelnya, A Book of Common Prayer, Didion mengisahkan, ia menulis adegan Charlotte Douglas pergi ke bandara. Adegannya berisi beberapa halaman prosa yang sangat disukainya, namun ia tidak bisa menemukan tempat untuk menyimpannya [di dalam novelnya]. “Saya terus mengambil adegan ini dan meletakkannya di berbagai tempat berbeda,” tulisnya, “namun adegan ini terus mengganggu narasi; dan selalu salah ditempatkan dimanapun, namun saya bertekad untuk tetap menggunakannya.” Akhirnya ia menemukan satu tempat untuk adegan ini di bagian tengah bukunya.

“Terkadang Anda bisa mendapatkan solusi dan jalan keluar di pertengahan buku.”

Hari Kesepuluh

Sebelum kita beranjak dari persoalan menemukan cerita untuk Anda, izinkan saya membongkar satu klise lain tentang penulisan novel: Tulislah sesuatu yang Anda tahu.

Anda pasti pernah mendengarnya sebelumnya. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Tom Clancy tidak pernah menjadi komandan kapal selam sebelum ia menulis novel The Hunt For Red October. Dan saya berani bertaruh bahwa Richard Bach belum pernah menjadi burung camar (seagull) sebelum ia menulis cerita Jonathan Livingston Seagull.

Daripada menulis sesuatu yang Anda tahu, Anda bisa mencoba menulis sesuatu yang Anda sukai. Topiknya bisa apa saja, tapi Anda menyukainya. Sebagai contoh, Arthur Golden, penulis Memoirs of a Geisha, pernah tinggal di Jepang dan bekerja di majalah berbahasa Inggris di Tokyo saat pada tahun 1982 ia mendapat ide menulis novel Memoirs. Pada tahun 1986, setelah meraih gelar dalam bidang penulisan kreatif dari Universitas Boston, ia mulai melakukan penelitian tentang Geisha dan menemukan “sebuah sub-budaya yang mempunyai aturan sendiri yang unik.” Dibutuhkan waktu sepuluh tahun dan beberapa draft sebelum ia berhasil menjual buku tersebut kepada Alfred A. Knopf seharga US$ 250.000.

Hari Kesebelas

Mulailah dengan menulis sesuatu yang Anda tahu, jika bukan tentang novelnya sendiri, maka sesuatu tentang tempat atau orang di novel Anda. Akan jauh lebih mudah memulai penulisan buku jika Anda menulis tentang orang-orang, tempat, dan sesuatu yang telah Anda kenal baik.

Hari Kedua Belas

Pertama-tama, tentukan karakter/tokoh cerita Anda, karena karakter jauh lebih sulit ditentukan daripada ceritanya.

Saat menulis, plot cerita bisa berubah atau tetap sama, namun karakternya akan berkembang dan memiliki kehidupan sendiri. Saat karakter Anda berkembang, mereka akan memiliki kepribadian yang berbeda, dan sama seperti seorang sahabat, Anda akan tahu apa yang akan mereka lakukan atau tidak lakukan pada situasi tertentu.

Penulis cerita misteri Oakley Hall mengatakan, seorang penulis harus “mendengarkan tuntutan atau keinginan karakternya, yang ketika mulai hidup, bisa menuntut jalan hidup yang berbeda dari yang dibutuhkan pada awalnya.

Hari Ketiga Belas

Ambil setumpuk kartu berukuran 5x7 dan tulis masing-masing nama karakter Anda di bagian atasnya. Lalu, pikirkan peranan apa yang akan dimainkan mereka dalam cerita Anda, tipe orang seperti apa mereka: usia, pendidikan, tempat kelahiran, keras kepala, lucu, gemuk, jelek. Apa kebiasaan unik mereka$3F Apakah mereka biasa mencuci tangannya 500 kali sehari? Apakah mereka suka mendengar suara-suara aneh? Apakah mereka baik hati terhadap anak-anak namun senang menyiksa kucing? Tuliskan semuanya, tuliskan sebanyak-banyaknya sampai Anda mulai mengenal masing-masing karakter tersebut secara mendalam. Alfred Hitchcock biasa menuliskan adegan ceritanya pada kartu indeks, satu adegan dalam satu kartu. Dengan cara itu, sebagaimana yang dikatakannya, saat ia mulai membuat film, pekerjaannya sudah selesai.

Beberapa dari karakter tersebut akan menjadi tokoh utama, di mana ceritanya akan berkisar di sekitar mereka; karakter lainnya akan memainkan sedikit peran, namun hal ini pun sangat penting, karena setiap pemain harus memiliki alasan mengapa mereka hadir dalam cerita tersebut. Jika tidak mempunyai alasan mengapa harus hadir dalam novel Anda, mereka akan memperlambat cerita Anda, dan hal-hal yang sifatnya lambat akan membuat pembaca merasa bosan.

Hari keempat Belas

Kebanyakan novel ditulis berdasarkan sebuah rumus, terutama buku laris besar. Sebagai contoh, John Baldwin, salah seorang penulis The Eleventh Plague: A Novel of Medical Terror, mengembangkan sebuah rumus sederhana yang ia gunakan untuk membuat struktur novelnya.

Rumus sepuluh langkahnya adalah:

1. Pahlawannya harus seorang yang ahli.

2. Penjahatnya harus seorang yang ahli.

3. Anda harus melihat kejahatan dari sudut pandang sang penjahat.

4. Pahlawannya memiliki pendukung sekelompok ahli di berbagai bidang.

5. Dua atau lebih anggota tim harus jatuh cinta.

6. Dua atau lebih anggota tim harus mati.

7. Penjahatnya harus mengubah perhatiannya dari sasaran awalnya kepada tim.

8. Penjahat dan pahlawannya harus hidup untuk bertarung kembali pada sekuel lanjutannya.

9. Semua kematian harus dimulai dari individu kepada kelompok: misalnya, jangan pernah mengatakan bahwa bom meledak dan 15.000 orang mati. Mulailah dengan “Jamie dan Suzy berjalan di taman bersama nenek mereka saat bumi terbuka.”

10. Jika Anda tidak maju-maju, bunuh salah satu tokohnya.

Rumus tambahan. Saat Ernest Hemingway memulai karirnya sebagai reporter muda untuk surat kabar Kansas City Star, ia diberi lembaran gaya penulisan dengan empat aturan dasar:

- Gunakan kalimat pendek.

- Gunakan paragraf pertama yang pendek.

- Gunakan bahasa Inggris yang bersemangat

- Bersikap positif, jangan negatif

Saat ditanya tentang aturan ini bertahun-tahun kemudian, ia berkata, “Itu adalah aturan terbaik yang pernah saya pelajari di bidang tulis-menulis. Saya tidak pernah melupakannya. Tidak ada seorangpun yang memiliki bakat, yang merasakan dan menulis hal-hal yang ingin dikatakannya dengan sebenarnya, akan gagal menulis sesuatu jika ia terikat dengan rumus di atas.”

Hari Kelima Belas

Kembangkan karakter dan plot Anda secara bersama-sama. Anda tidak bisa melakukan yang satu dengan baik tanpa yang lain. Karakter Anda bukanlah orang-orangan kayu yang jatuh begitu saja dari langit. Mereka adalah unsur penting drama yang Anda buat. Mereka harus melakukan sesuatu yang logis atau tidak logis (yang menjadi inti plot) yang akan menambah cerita Anda, dan membawanya menuju klimaks. Jangan pernah, jangan pernah memisahkan karakter dari plot.

Hari Keenam Belas

Pembaca harus percaya bahwa karakter Anda benar-benar ada atau mungkin ada—dan mereka harus digambarkan secara berbeda. Dan tidak ada cara yang lebih baik dalam mendefinisikan karakter selain tindakan mereka, tujuan mereka dalam hidup. Tujuan mereka bisa baik atau buruk. Hal itu tidak menjadi soal. Yang paling penting adalah pembaca melihat tindakan dan tujuan mereka, mempercayai mereka, dan terus-menerus merasa tertarik dengan mereka.

Jangan menulis cerita yang berisi ribuan orang. Tulis cerita tentang satu, dua, atau tiga karakter yang mudah diingat, dan semuanya memiliki tujuan.

Hari Ketujuh Belas

Anda membutuhkan seorang protagonis yang kuat. Kebanyakan penulis mengalami kesulitan menciptakan karakter yang lebih besar dari hidup, dikembangkan secara penuh, dan seorang protagonis yang konsisten.

Ingat, protagonis adalah karakter utama cerita Anda. Ia adalah orang yang para pembaca akan mengidentifikasikan diri mereka dengannya. Anda ingin pembaca Anda peduli dengan protagonis Anda. Ia adalah sahabat baru Anda sekarang.

Hari Kedelapan Belas

Pikirkan siapa yang akan diperlukan dalam cerita Anda dan apa yang akan mereka lakukan secara bersama-sama atau kepada satu sama lain, dan apa yang akan dilakukan oleh cerita kepada mereka. Apakah mereka semua berjalan ke arah yang sama? Apakah mereka berjalan ke enam arah yang berbeda? Tanyakan kepada diri Anda pertanyaan penting ini: Siapa yang akan tampil paling menarik di hadapan pembaca? Inilah pengujian penting dan nyata dalam pengembangan karakter dan pembuatan plot. Apakah pembaca Anda akan merasa tertarik? Apakah mereka akan peduli?

Agar pengembangan plot dan karakter berhasil, Anda perlu membuat pilihan yang sulit. Anda harus bersikap kejam terhadap karakter dan cerita Anda. Siapa yang akan ada di dalam, siapa yang akan di luar? Apa yang akan ada di dalam, apa yang akan di luar?
Sejujurnya, di tempat inilah kebanyakan calon novelis akan berhenti dan gagal. Mereka tidak bisa memaksa dirinya untuk membuat pilihan. Mereka merasa kagum atau lumpuh oleh kemungkinan yang ada di hadapan mereka.

Jangan coba-coba melakukan hal itu. Cobalah bersikap kejam. Tentu saja, Anda bisa mencoba berbagai pilihan berbeda, namun gerakkan cerita tersebut ke depan berdasarkan kejadian demi kejadian, dengan membawa masing-masing karakternya bersama Anda. Ketika masing-masing kejadian terungkap, setiap karakter harus bereaksi terhadap hal itu. Sebagaimana yang akan mereka lakukan dalam kehidupan nyata.

Jika seorang anak tertabrak dan tewas oleh sebuah mobil, kehidupan pengemudinya akan berubah untuk selamanya, begitu pula dengan kehidupan orang tua, kehidupan saudara kandungnya, teman, bahkan penjaga atau orang-orang yang kebetulan berada di sana. Anda harus memutuskan bentuk perubahan tersebut. Anda harus memutuskan. Ini adalah kesempatan Anda bermain sebagai “Tuhan“—dan jika Anda akan menulis maka Anda harus memainkan peran itu. “Tuhan“ ada dalam detilnya, dan “Tuhan“ memutuskan jalan novelnya.

Hari Kesembilan Belas
Teruslah mengajukan pertanyaan, “mengapa?” Saat Anda sampai pada akhir minggu kedua menentukan karakter, Anda akan memiliki setumpuk kartu karakter berukuran 5x7 yang menampilkan detil mendalam mengenai kehidupan pribadi karakter dalam cerita Anda, hingga ukuran pinggang dan warna favorit mereka. Novelis Vladimir Nabokov menyusun semua novelnya berdasarkan kartu indeks.

Hari Kedua Puluh

"Suara” Anda adalah suara Anda. “Gaya” Anda adalah gaya Anda. Jangan mencoba “meniru” sejumlah penulis terkenal. Banyak penulis pemula yang merasa harus menambahkan sesuatu pada “suara” mereka di atas halaman yang dicetak. Anda yang ada di halaman tersebut adalah Anda dalam kehidupan sebenarnya, sama rumitnya, sama duniawinya, atau sebaliknya. Ini bukan soal. Teruslah menulis dan terus membuang hal-hal buruk dan tidak nyaman yang mungkin masuk ke dalam tulisan Anda. Bersikap alamiah. Sebagaimana yang ditulis oleh novelis Prancis, René de Chateaubriand, "Penulis tulen bukanlah orang yang meniru seseorang, namun orang yang bisa ditiru oleh orang lain."

Hari Kedua Puluh Satu

Siapkan kerangka kasar yang berisi aksi cerita Anda mulai dari Bab Satu hingga bagian akhir. Novelis Katherine Anne Porter menyebutkannya seperti ini, "Jika saya tidak tahu akhir dari sebuah cerita, maka saya tidak akan memulai." Tulis paragraf terakhir novel Anda dan simpan di dalam laci. Pada akhir hari keseratus, mari kita lihat seberapa dekat Anda mengikuti imajinasi Anda.

Hari Kedua Puluh Dua

Jangan melakukan apapun--benar-benar apapun--pada novel Anda dalam pengertian penulisan yang sebenarnya sampai proses penyusunan plot Anda (bersama dengan karakter dan peran mereka dalam drama) telah selesai dan dituangkan di atas kertas.

Jangan menjadi korban ucapan penulis kawakan: "Saya memulai dengan ide dasar dan beberapa karakter. Saya tidak tahu kemana arah tujuan saya. Saya membiarkan karakternya bercerita untuk saya." Hal ini mungkin bisa berhasil untuk novelis brilian dan berpengalaman, namun kebanyakan kita membutuhkan peta jalan yang jelas jika tidak ingin membuat diri kita dan pembaca tersesat.

Hari Kedua Puluh Tiga

Gantung kartu dan kerangka yang telah Anda buat di kantor atau kamar Anda agar mudah dibaca.

Hari Kedua Puluh Empat

Halaman yang ditulis dengan baik, lebih digerakkan oleh karakter dan bukan oleh plot, serta memiliki awal, pertengahan dan akhir yang jelas merupakan keinginan editor (dan juga pembaca).

Hari Kedua Puluh Lima

Anda sekarang telah memiliki:

1. komitmen

2. jadwal kerja

3. ide cerita

4. tokoh karakter

5. plot detil mengenai keseluruhan cerita

6. deskripsi singkat mengenai tema novel Anda.

Hari Kedua Puluh Enam

Tetapkan sasaran untuk diri Anda sendiri untuk menulis sedikitnya empat halaman sehari. Yakni 300-325 kata, spasi ganda. Beberapa hari Anda akan menulis satu halaman; pada hari lainnya Anda akan menulis lima belas halaman. Usahakan untuk merata-ratakan setidaknya empat halaman per hari.

Hari Kedua Puluh Tujuh

Novel Anda adalah sebuah karya fiksi, namun itu tidak berarti fakta-fakta Anda tidak perlu lurus. Tidak ada sesuatu yang lebih cepat membuat pembaca berpaling selain fakta yang salah. Dan tidak ada sesuatu yang dapat memberi keotentikan pada cerita selain fakta atau detil yang benar. Gunakan internet untuk melakukan riset. Hal ini dapat dilakukan dengan cepat, mudah, dan murah. Seluruh perpustakaan di dunia terbuka untuk Anda. Lihat, juga, di majalah dan surat kabar yang diterbitkan pada waktu dan di tempat yang sama dengan seting novel Anda.

Gore Vidal menggunakan edisi lama Harper’s Magazine untuk mencari detil saat menulis novel sejarahnya.

Hari Kedua Puluh Delapan

Percakapan berbeda dengan dialog. Dialog memiliki tujuan. Dialog akan membuat cerita maju ke depan. Dialog akan membuat pembaca mengikuti cerita, dan membuat seseorang merasa berada di pusat aksi. Karenanya, jangan menerangkan peristiwa jauh di depan dari tangan kedua. Tempatkan pembaca di tengah-tengah aksi cerita Anda dan dialog Anda pun akan berjalan alami. Jadikan pembicaraan Anda tetap efisien dan kuat. Dan pastikan pembaca selalu tahu siapa yang sedang berbicara.

Hari Kedua Puluh Sembilan

Lihatlah ke cermin dan tulis tentang orang yang Anda lihat. Cobalah dan jelaskan orang yang Anda lihat di dalam cermin kepada orang baru yang belum pernah Anda temui. Pastikan deskripsinya kurang dari 300 kata. Jadikan "orang" ini salah satu karakter dalam novel Anda, baik sebagai tokoh protagonis, narator, atau salah seorang karakter kecil dalam plot.
Hidup Ini Indah Kesehatan Komunitas Penulis Indonesia Grup Mesra Pustaka Online

0 komentar: